Selasa, 20 November 2012

Pemuda Dalam Jerat Narkoba dan Kriminalitas




Oleh : Wandra Irvandi[1]

Semakin hari semakin bertambah kasus-kasus yang berkenaan dengan narkoba. Khususnya penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja yang semakin menggila. Penelitian pernah dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan bahwa 50 – 60 persen pengguna narkoba di Indonesia adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Total seluruh pengguna narkoba berdasarkan penelitian yang dilakukan BNN dan UI adalah sebanyak 3,8 sampai 4,2 juta. Di antara jumlah tersebut, 48% di antaranya adalah pecandu dan sisanya sekedar coba-coba dan pemakai. Hal ini disampaikan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) BNN, Kombes Pol Sumirat Dwiyanto pada detikHealth, Rabu (6/6/2012)[2]

Data lain menunjukkan, telah terjadi peningkatan dalam pengungkapan kasus narkotika; pada tahun 2007 sebanyak 11.380 kasus, 2008 sebanyak 10.008 kasus, 2009 sebanyak 11.135 kasus, tahun 2010 adalah 17.834 kasus serta tahun 2011 sebanyak 19.045 kasus.[3] Sementara jumlah pengguna narkoba di Indonesia sekitar 3,8 juta orang (Data BNN 2011), atau sekitar 1,5 persen dari jumlah total penduduknya, data terakhir tahun 2012 ini sejumlah 5 juta orang sebagai pengguna narkoba atau 2,9 persen dari penduduk Indonesia.[4] Bahkan 2% diantaranya dari kalangan mahasiswa dan pelajar.[5]

Untuk didaerah Kalimantan Barat khususnya Pontianak berdasarkan data dari kepolisian menyebutkan, tahun ini dari bulan Januari hingga Agustus ada 79 kasus narkoba di Kota Pontianak dan sebanyak 92 tersangka terkait kasus narkoba telah diputuskan penjatuhan hukuman oleh pengadilan.[6] Bandingkan dengan tahun 2010 terdapat 64 kasus dan ditetapkan 81 tersangka. Dengan rincian perkara yakni sabu 45 kasus, ganja 13 kasus dan ekstasi 6 kasus. Kemudian pada 2011, tercatat 65 kasus dengan ditetapkan 75 tersangka. Rincian perkara diantaranya, sabu 52 kasus, ganja 4 kasus dan ekstasi 8 kasus.[7]

Upaya pemerintah untuk menanggulangi maraknya narkoba juga sudah dilakukan, gerakan anti narkoba atau “Say No to Drugs”, penyuluhan-penyuluhan, rehabilitasi bagi para pemakai hingga pemberian sanksi. Namun upaya tersebut tidak membuat kasus narkoba berkurang malah semakin meningkat, terutama dalam pemberian sanksi yang justru dianggap oleh banyak kalangan tidak sepenuh hati untuk dijalankan. Melihat hal tersebut, seharusnya ketika berbagai program dan rencana sudah dibuat paling tidak ada dampaknya, tetapi selama ini sama sekali tidak ada perubahan, berarti ada yang salah dan tentu saja kita harus introspeksi, apa yang salah dan bagaimana solusi kedepannya?

Akar permasalahan

Dalam rangka mencari penyelesaian yang komprehensif, mengetahui akar permasalahan sangatlah penting agar solusi yang didapatkan menyentuh hingga ke dasar. Tidak seperti sekarang ini penyelesaian masalah sifatnya hanya sementara, dan sebenarnya bukan dalam rangka menyelesaikan permasalahan melainkan hanya sekedar menunda dan mengulur waktu agar masalahnya tidak membesar.

Kalau kita mau berfikir dan mau jujur, akar permasalahan maraknya narkoba dan kriminalitas di kalangan pemuda adalah dikarenakan kehidupan sekuler dan liberal yang diterapkan di negeri ini. Kehidupan sekuler (baca : memisahkan agama dari kehidupan) telah merusak tatanan sosial baik secara individu, masyarakat dan negara. Kebebasan yang kebablasan, terutama menyerahkan segala aturan dibuat oleh rakyat menjadikan pendidikan bernuansa materialistik, politik menjadi oportunistik, ekonomi yang kapitalistik, budaya mengarah kepada hedenoistik, dan tatanan sosial yang individualistik.

Sistem sekuler memberikan kebebasan bagi indivdu untuk bertingkah laku, namun harus sesuai dan sejalan dengan UU dan peraturan yang berlaku. Sementara di sisi lain, UU dan peraturan di buat oleh individu itu sendiri. Bagi individu yang tidak membuatnya tentu saja harus mengikuti aturan sementara yang membuat, akan menyusun peraturan yang dibuat berdasarkan banyak pertimbangan, bisa jadi pertimbangan dan kepentingan untuk dirinya sendiri.

Kita bisa ambil contoh mengenai pemberian grasi oleh presiden, dikarenakan berbagai macam pertimbangan para tersangka dan terdakwa kasus narkoba bisa mendapatkan keringanan hukuman yang diharapkan kebijakan tersebut memberikan keuntungan di sisi lain. Disinilah permasalahannya yaitu peraturan dibuat menurut akal manusia yang sebenarnya lemah untuk menentukan yang mana yang baik dan yang mana yang buruk.

Padahal Allah berfirman dalam Alquran Surah Al-Baqarah 216 : “…..Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Berarti menyerahkan urusan pembuatan UU dan peraturan di tangan dan akal manusia merupakan perkara yang keliru.

Solusi Islam

Setelah kita mengetahui akar permasalahannya bahwa kondisi sekarang ini disebabkan oleh penerapan sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, maka selanjutnya kita dapat mengetahui pula solusinya, yaitu secara pasti dengan mencampakkan sistem tersebut dan menggantinya dengan sistem islam. Hal ini membutuhkan peran dari berbagai unsur yaitu : sekolah, keluarga, masyarakat dan negara. Keseluruhannya bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian yang baik pada remaja, kepribadian yang dibangun di atas iman dan takwa.

Paling tidak ada beberapa solusi untuk mengatasi narkoba dan kriminalitas di kalangan remaja antara lain :
1.         Pengokohan institusi keluarga
Keluarga merupakan institusi pertama dan utama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak (generasi). Orang tua wajib mendidik anak tentang prilaku yang sesuai dengan ajaran islam. Bukan mengajarkan prilaku yang tidak sesuai dengan islam, dan bukan malahan membela dan membiarkan anak apabila melakukan kemaksiatan atau kesalahan. Hal ini lah yang terjadi pada pelaku narkoba dan kriminalitas di kalangan remaja. Dianggap lumrah karena masih remaja dan dianggap pula mereka adalah korban.
Allah berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6, tentang pentingnya keluarga menjaga diri dari kemaksiatan. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah para malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah atas apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Disinilah perlu ada peran negara untuk membantu kebutuhan keluarga, dari sisi sandang, pangan dan papan yang merupakan kewajiban negara untuk memenuhinya. Belum lagi sedikitnya pemahaman orang tua untuk mendidik anak-anak mereka. Siapa yang akan memahamkan mereka? Jikalau lingkungan dan media massa menghancurkan peran keluarga, dan hal ini juga dibiarkan oleh negara.
Para orang tua diopinikan untuk bekerja, mengembangkan karir yang alasannya juga untuk kepentingan anak, khususnya peran ibu, yang didengung dengan slogan emasipasi wanita dan RUU KKG (Keadilan dan Kesetaraan Gender). Sehingga peran orang tua tergantikan oleh pembantu dan lingkungannya. Di satu sisi bertanggungjawab memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meninggi di sisi lain bertugas untuk mendidik keluarga.

2.         Membentuk masyarakat yang islami
Pembentukan masyarakat islami artinya, menjadikan aturan islam sebagai aturan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Selain mengatur individu dan keluarga juga mengatur tatanan sosial kemasyarakatan. Jikalau ada remaja terbiasa nongkrong dengan kegiatan yang tidak jelas, masyarakat setempat harus segera bertindak, disinlah peran penting masyarakat sebagai kontrol sosial.
Masyarakat juga harus membentuk lingkungan yang islami. Bukan malah menjadi andil dalam memfasilitasi remaja bertingkah laku buruk. Hal ini dilakukan misalnya dengan memperbanyak aktivitas-aktivitas keislaman, menggerakkan remaja dalam kegiatan-kegiatan keislaman adalah termasuk upaya dalam membentuk kualitas remaja.

3.         Ketakwaan negara
Peran yang paling penting dan strategis dalam membentuk kepribadian remaja ada pada negara dengan memberlakukan sistem islam sebagai pengganti sistem sekuler saat ini. Terutama dalam membentuk paradigmatik dan pengaturan pendidikan. Secara paradigma pendidikan harus dikembalikan pada asas akidah islam yang akan menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum dan standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar-mengajar, termasuk penentuan kualifikasi tenaga pengajar serta budaya sekolah/kampus tempat remaja eksis di dalamnya.[8]
Ada dua tujuan pokok dalam hal penyusunan kurikulum dan materi pelajaran yang harus diperhatikan :[9]
a.       membangun kepribadian islam, pola pikir (aqliyah) dan jiwa (nafsiyah) bagi umat, yaitu dengan cara menanamkan tsaqofa islam berupa akidah, pemikiran dan perilaku islami kedalam akal dan jiwa anak didik.
b.      mempersiapkan peserta didik agar diantara mereka menjadi ahli di setiap aspek kehidupan, baik ilmu-ilmu keislaman (ijtihad, fiqih, peradilan dll), maupun ilmu-ilmu terapan (teknik, kimia, fisika, kedokteran dll).
Selain itu dengan meminimalkan pembiayaan dalam pendidikan bagi masyarakat juga merupakan tanggung jawab negara, dengan cara pengelolaan harta dan SDA yang sesuai dengan ketentuan islam, pembiayaan pendidikan tanpa harus menjadi beban keluarga dan masyarakat bisa diwujudkan. Berarti kerangka ekonomi negara juga harus berlandaskan islam. Jadi, penyelesaian permasalahan secara tuntas akan terwujud jika solusinya juga memberikan jawab secara menyeluruh dan komprehensif.
Termasuk fungsi dan peran negara adalah sebagai kontrol. Dengan memperhatikan tingkah laku individu, keluarga dan masyarakat agar terjaga ketakwaannya. Pelaksanaan sistem sanksi dan peradilan yang sesuai dengan islam, juga mengembankan tugas tersebut kepada qadhi merupakan bagian dari tanggung jawab negara. Dalam islam sistem ada hukum yang sanksinya sudah ditetapkan oleh syariah berdasarkan kasusnya dan ada sanksi yang ditetapkan oleh qadhi.[10]
Untuk permasalahan narkoba sendiri, hal tersebut dikategorikan ta’zir, artinya yang memberikan keputusan sanksinya adalah qadhi. Apabila sudah diputuskan maka tidak boleh ada pemberian keringanan, karena apabila sudah ditetapkan harus segera dilaksanakan, sehingga sanksi tersebut bisa memberikan dua fungsi; (1) memberikan efek jera bagi pelaku atau pun orang lain dan (2) insyaAllah sebagai penebus dosa atas kesalahannya.[11] Tidak seperti sekarang ini yang bisa menunda bahkan mendapatkan keringanan hukuman.
Apa yang kita lakukan sekarang?
Setelah kita mendapatkan solusi untuk menyelesaikan akar permasalahan, tentu saja hal ini tidak langsung serta merta dilaksanakan. Proses penerapan sistem islam tentu memerlukan waktu yang tidak dengan tiba-tiba. Akan tetapi jikalau tidak dimulai dari sekarang tentu muncul pertanyaan kapan akan dilakukan? Kalau ditunda dan menunggu masyarakat siap, bisa jadi permasalahan tersebut sudah menjadi lebih akut. Justru dengan menyiapkan masyarakat dari sekarang merupakan agenda utama untuk menerapkan sistem islam.
Maka dari itu ada beberapa hal yang harus kita lakukan guna mewujudkan kondisi tersebut :
Pertama, hendaknya kita senantiasa mendalami dan mempelajari islam, tidak hanya terbatas pada islam merupakan agama ritual tetapi juga terkait islam sebagai pandangan hidup. Terus-menerus meningkatkan pemahaman islam didalam benak dan akal kita. Tidak putus asa dalam rangka mempelajarinya, agar kita memahami dan mampu mengamalkan untuk diri sendiri dan keluarga.
Kedua, ikut berproses dalam perbaikan kondisi saat ini, artinya terlibat aktif dalam memberikan solusi-solusi teknis dan mempersiapkan kondisi masyarakat ketika nanti sistem islam  harus diterapkan.
Ketiga, bersama-sama membina masyarakat dan mendukung perjuangan tegaknya sistem islam dalam sebuah negara. Karena sistem islam tidak bisa tegak tanpa adanya negara dan perjuangan itu juga tidak bisa dilakukan oleh individu tertentu, kelompok tertentu melainkan seluruh umat islam bersama-sama memperjuangkannya. Wallahu’alam.

Reference :


[1] Ketua LTJ (Lajnah Thulab Wal Jami’ah) DPD 1 HTI KalBar.
[2] Guslaeni Hafid, “Kriminalitas Remaja Di Sekitar Kita”, majalah Alwa’ie No.147 Tahun XIII, 1 – 30 November 2012/ Dzulhijjah 1433 H.
[8] Dede Tisna, “Cara Islam Mengatasi Kriminalitas Remaja”, majalah Alwa’ie No.147 Tahun XIII, 1 – 30 November 2012/ Dzulhijjah 1433 H.
[9] Abu Yasin, “Strategi Pendidikan Negara Khilafah”, Pustaka Thoriqul Izzah : 2008.
[10] Muhammad Muhsin Rodhi, “Tsaqofah dan Metode Hizbut Tahrir dalam mendirikan negara khilafah islamiyah”, Al-Izzah, 2008. Hal : 502
[11] Ibid hal : 502

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar